Bekasi – Setiap April, ingatan kolektif kita sering kali terjebak pada simbolisme lahiriah: kebaya dan sanggul. Di sekolah hingga perkantoran, perayaan Hari Kartini kerap disempitkan menjadi sekadar ajang perlombaan busana adat. Padahal, di balik balutan kain tradisional itu, bersemayam sebuah nalar revolusioner yang melampaui zamannya.
Raden Ajeng Kartini bukan sekadar simbol perlawanan terhadap feodalisme; ia adalah pemikir ulung yang menemukan jalan “cahaya” melalui transformasi spiritual dan intelektual yang luar biasa.
Goresan Pena dari Balik Tembok Pingitan
Bagi Kartini, tembok pingitan Jepara bukanlah akhir dari segalanya, melainkan kawah candradimuka bagi pemikirannya. Lewat surat-surat yang kemudian dibukukan oleh J.H. Abendanon dalam Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang), Kartini melakukan analisis sosial yang tajam terhadap bangsanya.
Surat-surat tersebut bukan sekadar curahan hati atau keluh kesah penderitaan, melainkan sebuah arsip intelektual yang lahir dari kegelisahan spiritual yang mendalam.
Pertemuan yang Mengubah Segalanya
Salah satu fragmen sejarah yang sering terabaikan adalah pertemuan Kartini dengan Kyai Sholeh Darat, seorang ulama kharismatik yang memantik nalar kritisnya. Di rumah pamannya, Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, Kartini terkesima saat mendengar ceramah tafsir Surah Al-Fatihah.
Dengan keberanian intelektualnya, Kartini melontarkan pertanyaan kritis yang mengubah metode pengajaran agama saat itu:
“Kyai, apa gunanya membaca kitab suci jika saya tidak tahu artinya? Selama ini Al-Qur’an hanya menjadi ‘barang keramat’ yang dibaca tanpa dimengerti.”
Kegelisahan Kartini beralasan. Saat itu, pemerintah kolonial melarang penerjemahan kitab suci ke bahasa lokal. Menanggapi tantangan Kartini, Kyai Sholeh Darat melakukan strategi cerdas dengan menyusun Faidhur-Rahman, tafsir Al-Qur’an pertama dalam bahasa Jawa menggunakan aksara Pegon (huruf Arab berbahasa Jawa) untuk mengelabui kecurigaan Belanda.
Menemukan Hakikat Cahaya
Lewat bimbingan Kyai Sholeh Darat yang juga seorang sufi, Kartini memahami bahwa kegelapan yang sesungguhnya adalah kebodohan dan ego (nafs), sementara cahaya adalah ilmu dan pengabdian.
Pemahaman terhadap Surah Al-Baqarah ayat 257—tentang Tuhan yang mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya—menjadi nafas utama dalam perjuangannya. Ia menyadari bahwa “masa kegelapan” perempuan adalah ketika mereka dipingit, tidak berpendidikan, dan terjepit dalam hirarki feodal yang merendahkan martabat manusia.
Melampaui Seremonial
Kini, merayakan Hari Kartini semestinya bukan lagi soal perlombaan busana adat semata. Merayakan Kartini berarti mengadopsi cara berpikirnya yang berani menggugat ketidakadilan dan memuliakan nilai-nilai humanisme.
Spirit Kartini adalah tentang bagaimana menjadikan spiritualitas sebagai bahan bakar menuju kematangan intelektual. Seperti yang ia tuliskan: “Aku tahu, sesudah malam yang gelap gulita ini, akan datang pagi yang terang benderang”.
Tugas kita sekarang—terutama warga Bekasi yang hidup di tengah modernitas—adalah memastikan “pagi” itu tetap benderang bagi generasi perempuan mendatang. Jangan sampai kita sibuk bersanggul, tapi nalar kita tetap terbelenggu kegelapan.
Oleh: Junaidi Abdilah
Penulis adalah lulusan Fisika Universitas Sebelas Maret (UNS) tahun 1995. Penggiat literasi yang memiliki minat pada isu sosial, sejarah, dan pemikiran tokoh bangsa.
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.












