Bekasi — Kenaikan harga kedelai impor akibat pelemahan rupiah mulai dirasakan para pengrajin tempe rumahan. Demi mempertahankan pelanggan, mereka memilih tidak menaikkan harga jual, namun mengurangi isi tempe yang dipasarkan.
Pengrajin tempe, Bondan Daryono (48), mengaku harga kedelai saat ini mencapai Rp10.200 per kilogram dari sebelumnya sekitar Rp9.500 per kilogram. Kenaikan itu membuat keuntungan usahanya terus tergerus.
“Kalau pembelanjaan masih biasa, karena pesanan juga masih normal. Cuma ya keuntungan jadi berkurang,” kata Bondan saat ditemui di tempat produksinya di Gang Mawar, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Selasa (19/5/2026).
Dalam sehari, Bondan menghabiskan sekitar 100 kilogram kedelai untuk memproduksi tempe yang dijual ke pasar dan pelanggan tetap. Meski harga bahan baku naik, ia mengaku belum berani menaikkan harga jual.
Menurutnya, pengrajin tempe skala rumahan sangat bergantung pada loyalitas pelanggan. Jika harga dinaikkan secara tiba-tiba, pelanggan dikhawatirkan beralih ke pedagang lain.
“Kalau harga jual tempe mah tetap. Takut pelanggan pada kabur,” ujarnya.
Sebagai langkah menyiasati kenaikan biaya produksi, Bondan memilih mengurangi isi tempe tanpa mengubah ukuran bungkus luar.
“Kalau panjangnya masih biasa, cuma isinya dikurangi,” katanya.
Tak hanya kedelai, biaya operasional lain seperti plastik pembungkus juga ikut naik. Kondisi itu membuat margin keuntungan terus menipis.
“Kalau biasanya dapat Rp100 ribu, sekarang paling jadi Rp80 ribu,” ucapnya.
Bondan mengatakan gejolak harga kedelai sebenarnya sudah sering terjadi, terutama saat nilai dolar menguat. Namun ia menilai kondisi saat ini masih belum separah beberapa tahun lalu ketika harga kedelai sempat menembus Rp13 ribu per kilogram.
Meski demikian, ia berharap pemerintah kembali memberikan subsidi kedelai seperti yang pernah dilakukan sebelumnya untuk membantu pengrajin kecil bertahan.
“Harapannya ya pengennya dikasih subsidi lagi kayak dulu. Pernah dulu ada subsidi hampir setahun,” katanya.
Bondan sendiri telah menjalani usaha produksi tempe selama hampir 20 tahun. Ia mengaku hanya bisa menyesuaikan strategi produksi agar usaha tetap berjalan di tengah kenaikan harga bahan baku.
“Kalau dolar naik ya pasti gonta-ganti harga kedelainya. Tinggal kitanya aja yang ngatur,” tutupnya.
Ikuti Kami di GOOGLE NEWS
Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.












