Bekasi  

Ironi Kurs Dolar dan Mangkraknya Tabungan Haji Pengrajin Tempe Bekasi

Bondan Daryono, pria berusia 48 tahun yang sudah dua dekade menggantungkan hidup dari aroma ragi dan kedelai, kini hanya bisa menatap lesu periuk nasinya. Ongkos produksi usaha rumahan miliknya terus membengkak, berbanding terbalik dengan margin keuntungan yang kian tergerus.

Bekasi - Bondan Daryono, pria berusia 48 tahun yang sudah dua dekade menjadi pengrajin tempe di Gang Mawar, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Foto: Septian/Gobekasi.id.
Bondan Daryono, pria berusia 48 tahun yang sudah dua dekade menjadi pengrajin tempe di Gang Mawar, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Foto: Septian/Gobekasi.id.

Bekasi — Melambungnya kurs dolar Amerika Serikat tidak hanya memicu kepanikan di lantai bursa atau ruang rapat korporasi besar. Di sebuah sudut sempit Gang Mawar, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, keperkasaan mata uang asing itu menjelma menjadi hantaman nyata yang mengubur pelan-pelan mimpi seorang pengrajin tempe untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci.

Bondan Daryono, pria berusia 48 tahun yang sudah dua dekade menggantungkan hidup dari aroma ragi dan kedelai, kini hanya bisa menatap lesu periuk nasinya. Ongkos produksi usaha rumahan miliknya terus membengkak, berbanding terbalik dengan margin keuntungan yang kian tergerus.

Pangkal persoalannya klasik: ketergantungan akut pada kedelai impor. Akibat depresiasi rupiah, harga bahan baku utama tempe itu merangkak naik dari posisi semula Rp 9.500 per kilogram menjadi Rp 10.200 per kilogram.

Bagi pelaku usaha mikro seperti Bondan, selisih Rp 700 bukanlah angka sepele. Lonjakan ini seketika memotong keuntungan harian hingga 20 persen.

“Kalau biasanya bersih bisa mengantongi Rp 100 ribu sehari, sekarang paling sisa Rp 80 ribu,” kata Bondan saat ditemui di rumah produksinya, Selasa (19/5/2026).

Berita Bekasi Lainnya  Satu Petugas KPPS Dilaporkan Meninggal Dunia Karena Kelelahan di Pondok Melati

Penyusutan nominal itu berdampak sistemik pada pos pengeluaran jangka panjang keluarganya. Dana yang dipotong Bondan dari keuntungan harian itu sejatinya merupakan modal utama yang dikumpulkan sedikit demi sedikit demi Ongkos Naik Haji (ONH).

“Uang yang aturan buat ditabung naik haji, sekarang terpaksa dipakai menutup biaya modal. Ya, mau bagaimana lagi, terpaksa ditunda entar beberapa tahun lagi,” ujar Bondan lirih.

Taktik Shrinkflation di Lantai Pasar

Saban pagi, Bondan mengolah sedikitnya satu kuintal kedelai demi menjaga pasokan pelanggannya di pasar tradisional. Di tengah jepitan biaya produksi, menaikkan harga jual di tingkat konsumen adalah opsi bunuh diri bisnis yang bisa membuat pembeli lari ke kompetitor.

Demi menyiasati kebangkrutan tanpa harus memicu gejolak harga di meja dapur konsumen, Bondan terpaksa menempuh strategi shrinkflation—menyusutkan volume barang tanpa mengubah tampilan luar kemasan.

“Kalau ukuran kemasan luarnya masih sama, cuma kepadatan isinya saja yang dikurangi sedikit,” tutur dia membocorkan taktik bertahannya.

Berita Bekasi Lainnya  Tower Provider di Bekasi Miring dan Berisiko Ambruk, Warga Sekitar Diungsikan

Beruntung bagi Bondan, konsumen di akar rumput umumnya sudah memiliki tingkat permakluman yang tinggi. Dinamika pasar instan membuat ibu-ibu rumah tangga dan pedagang gorengan paham bahwa jika harga kedelai dunia bergejolak, ukuran tempe di pasar dipastikan bakal “diet” mendadak.

Menanti Katup Penyelamat Subsidi

Tekanan yang dihadapi perajin tempe di Bekasi Timur ini sebenarnya merupakan potret makro dari rapuhnya ketahanan pangan nasional yang berbasis impor. Beban Bondan kian berlapis lantaran komponen pendukung seperti plastik pembungkus kemasan hingga tarif utilitas operasional ikut-ikutan terkerek naik imbas inflasi.

Berkaca pada krisis komoditas beberapa tahun silam, Bondan berharap pemerintah daerah maupun pusat tidak menutup mata dan sekadar melempar retorika. Ia mendesak otoritas terkait kembali mengucurkan keran subsidi harga kedelai tingkat perajin.

“Dulu pemerintah pernah kasih subsidi, jadi harga beli kedelai di tingkat kami bisa diredam lebih murah. Harapannya ya skema seperti itu dihidupkan lagi sekarang,” kata dia.

Berita Bekasi Lainnya  Kota Bekasi Catat Ada 27 Kasus Covid Selama Sepekan Terakhir

Meski dihantam badai kurs yang datang berulang kali, Bondan memilih menolak gulung tikar. Di tengah tiadanya kepastian intervensi pasar dari pemerintah, ketekunan membolak-balik papan tempe di Gang Mawar tetap ia lakoni—meski itu berarti masa tunggunya menuju Mekkah harus bergeser entah sampai kapan.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *