Bekasi  

Eksodus Awal dari Jabotabek: 285 Ribu Kendaraan Mulai Membelah Jalur Mudik

Bekasi - Pengendara mulai memadati ruas Tol H-7 Lebaran 2026. Foto: Ist/Gobekasi.id.
Pengendara mulai memadati ruas Tol H-7 Lebaran 2026. Foto: Ist/Gobekasi.id.

Bekasi – Gelombang mudik Lebaran 2026 (1447 H) resmi dimulai. Data terbaru dari PT Jasa Marga (Persero) Tbk mencatat sebanyak 285.781 kendaraan telah meninggalkan wilayah Jabotabek pada periode H-10 hingga H-9, atau tepatnya pada Rabu dan Kamis, 11-12 Maret 2026.

Angka ini menunjukkan kenaikan tipis sebesar 3,1% dibandingkan volume lalu lintas normal, menandakan masyarakat mulai mencicil perjalanan sebelum puncak arus mudik tiba.

Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, mengungkapkan bahwa pergerakan massa terkonsentrasi di empat pintu keluar utama: GT Cikampek Utama, GT Kalihurip Utama, GT Cikupa, dan GT Ciawi.

Dominasi Jalur Timur dan Lonjakan Trans Jawa

Timur masih menjadi magnet utama pergerakan. Sebanyak 119.228 kendaraan atau sekitar 41,7% dari total volume lalin memilih arah Trans Jawa dan Bandung. Menariknya, lalin menuju Trans Jawa melalui GT Cikampek Utama melonjak signifikan hingga 13,7% di atas lalin normal, mencapai 62.503 kendaraan.

Sebaliknya, arus menuju Bandung melalui GT Kalihurip Utama justru sedikit melandai, turun 2,6% dari angka normal. Hal ini mengindikasikan bahwa pemudik jarak jauh menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur lebih mendominasi jalan tol di awal periode mudik ini dibandingkan dengan pelancong jarak pendek.

Di sisi barat, jalur menuju Pelabuhan Merak via GT Cikupa juga mencatatkan kenaikan sebesar 5,6%, sementara jalur selatan menuju Puncak via GT Ciawi justru mengalami penurunan volume sebesar 4,4%.

Strategi Diskon dan Ancaman Puncak Arus

Jasa Marga memprediksi puncak arus mudik baru akan terjadi pada 18 Maret 2026. Untuk menghindari penumpukan yang ekstrem pada tanggal tersebut, Rivan mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan program diskon tarif tol sebesar 30%.

“Diskon ini diberlakukan pada 15-16 Maret 2026 (H-6 dan H-5) di sembilan ruas strategis Jasa Marga Group,” ujar Rivan.

Potongan harga ini mencakup jalur vital seperti Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Layang MBZ, hingga Trans Sumatra dan jalur Bandung-Cisumdawu. Langkah ini merupakan upaya insentif agar masyarakat melakukan perjalanan lebih awal, guna meratakan beban volume kendaraan di jalan tol.

Celah Keamanan dan Kesiapan Pengendara

Meski volume kendaraan mulai naik, Jasa Marga memberikan catatan keras terkait kesiapan fisik dan teknis. Penggunaan aplikasi Travoy untuk memantau lalin secara real-time serta kepastian saldo uang elektronik dan kecukupan BBM menjadi syarat mutlak agar tidak terjadi kemacetan di gerbang tol atau bahu jalan.

“Pastikan kendaraan maupun pengendara dalam keadaan prima,” tegas Rivan. Mengingat durasi perjalanan mudik yang bisa mencapai belasan jam, disiplin menggunakan rest area dengan bijak menjadi kunci untuk menekan angka kecelakaan akibat kelelahan—faktor yang secara historis menjadi penyumbang terbesar insiden di jalan tol.

Kini, dengan lebih dari seperempat juta kendaraan sudah berada di jalan, koordinasi di lapangan antara Jasa Marga, Kepolisian, dan pemangku kepentingan lainnya akan diuji hingga puncaknya pada pekan depan.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *