Bekasi  

Ancaman Penyakit BEF di Bekasi, Peternak Sapi Sebut Lebih Fatal dari PMK

Penyakit ini dinilai lebih mengkhawatirkan ketimbang Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) karena risiko kematian yang sangat cepat.

Bekasi - Lapak Lapan Hewan Kurban H Goyang di Jalan Mawar 4, Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Medan Satria. Foto: Gobekasi.id.
Lapak Lapan Hewan Kurban H Goyang di Jalan Mawar 4, Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Medan Satria. Foto: Gobekasi.id.

Bekasi – Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, para peternak dan pedagang sapi di Kabupaten Bekasi kini dihantui ancaman penyakit demam tiga hari atau bovine ephemeral fever (BEF).

Penyakit ini dinilai lebih mengkhawatirkan ketimbang Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) karena risiko kematian yang sangat cepat.

Ketua Kelompok Ternak Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Cikahuripan, Desa Kertarahayu, Kecamatan Setu, Karma, mengungkapkan bahwa keterlambatan penanganan pada sapi yang terjangkit BEF bisa berakibat fatal hanya dalam hitungan jam.

“Kalau PMK sudah biasa. Ini sapi sesak napas, ngos-ngosan, panas kalau kena BEF. Itu 1×24 jam kalau enggak buru-buru ditangani, bisa mati,” ujar Karma dikutip, Sabtu (9/5/2026).

Karma menjelaskan bahwa serangan BEF disebabkan oleh virus yang dibawa oleh serangga pengisap darah. Gejala awalnya sering kali ditandai dengan kenaikan suhu tubuh yang signifikan dan gangguan pernapasan.

Berita Bekasi Lainnya  Adik Korban Pembunuhan Bekasi Ragu Keterangan Pelaku Bunuh Asep Karena Ekonomi dan Tak Dapat Restu Nikah

Di kandang BUMDes Kertarahayu, dua ekor sapi sempat terjangkit namun berhasil diselamatkan setelah mendapat perawatan intensif.

Sebagai langkah antisipasi, peternak kini memperketat pola pemeliharaan.

Misalnya dengan mencampur ampas tahu dan konsentrat dengan serat kasar seperti jerami dan rumput, pemberian vitamin setiap tiga bulan untuk menjaga imunitas.

kemudian juga memberian obat cacing secara rutin guna memastikan penyerapan nutrisi maksimal.

Merespons keresahan peternak, Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi telah menerjunkan 32 personel untuk melakukan pengawasan kesehatan hewan kurban di 23 kecamatan.

Tim ini menyisir lapak penjualan, kandang peternak, hingga Rumah Potong Hewan (RPH).

Ketua Tim Pengendalian Penyakit Hewan Kabupaten Bekasi, Dewi Suryani, menyatakan hingga saat ini belum ada laporan kematian hewan kurban akibat BEF.

Berita Bekasi Lainnya  Formasi CPNS 2019 di Kota Bekasi Jauh dari Kebutuhan

Namun, ia mengingatkan bahwa penyakit ini bersifat endemik dan rawan muncul saat musim pancaroba akibat meningkatnya populasi nyamuk dan lalat pembawa virus.

“BEF tidak menular secara kontak langsung antarhewan, melainkan melalui perantara nyamuk atau lalat penggigit,” tutur Dewi.

Pemerintah Kabupaten Bekasi mewajibkan pedagang hewan kurban untuk mematuhi standar kesejahteraan dan kesehatan hewan seperti mengisolasi hewan sakit,
menyediakan tempat berteduh agar hewan tidak stres akibat cuaca panas serta memastikan ketersediaan air minum.

Serta juga melakukan penyemprotan insektisida atau fogging di sekitar kandang untuk memutus rantai penularan lewat serangga.

Dewi menegaskan agar pedagang jujur dan tidak menjual hewan yang sedang dalam kondisi sakit sebagai hewan kurban.

Berita Bekasi Lainnya  Kunjungan Penuh Empati, Wakil Wali Kota Bekasi Doakan KH Abdul Hadi Segera Pulih

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *