Opini  

Membunuh Kebinatangan Manusia

Padahal berkurban itu jiwa dan raga sebagai representasi keimanan dan ketakwaan. Bukan terus menghidupkan dan memelihara syahwat duniawi, seiring gagal membunuh sifat kebinatangan dalam dirinya

Bekasi - Manusia bertindak seperti hewan buas yang ingin menguasai segalanya untuk diri sendiri tanpa mempedulikan orang lain. Ini digambarkan seperti Qabil yang didorong kerakusan untuk menguasai hak orang lain. Foto Ilustrasi Chatgpt for Gobekasi.id.
Manusia bertindak seperti hewan buas yang ingin menguasai segalanya untuk diri sendiri tanpa mempedulikan orang lain. Ini digambarkan seperti Qabil yang didorong kerakusan untuk menguasai hak orang lain. Foto Ilustrasi Chatgpt for Gobekasi.id.

Bekasi – Puncak rangkaian ibadah haji telah tiba seiring umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Adha tepat pada tanggal 10 Dzulhijjah 1447 H. Momentum refleksi sarat pembelajaran dan empiris capaian syariat, tarekat, hakikat dan marifat bagi entitas muslim. Lebaran Kurban tak hanya sebatas tradisi kewajiban religi, ia menjadi dimensi spiritualitas yang menjadi kiblat relasi substansi ke-Tuhanan dan kemanusiaan.

‘Unconditional trust’ Nabi Ibrahim alaihis salam kepada Allah subhanahu wa ta’ala untuk menyembelih Putranya Nabi Ismail alaihis salam telah menjadi kompilasi pikiran, perasaan, dan logika yang telah mencapai tingkatan paripurna seorang hamba di hadapan Tuhannya. Nabi Ibrahim berhasil memasuki fase transendental atas kekuasan Ilahi pada semesta, manusia, dan semua mahkluk hidup yang lemah dan tak berdaya yang melekat sifat salah dan merusak.

Sinyalemen kuat yang visioner dari firman Allah yang tertuang dalam beberapa hikmah Al Quran. Tak ubahnya telah mengantisipasi betapa berbahayanya perilaku yang potensial kental dengan kekafiran, kemusyrikan, dan kefasikan manusia pada umumnya dan umat Islam khususnya. Sebagai makhluk yang mengidap genetik kejahatan tinggi berlumuran dosa. Sebagai manusia yang cenderung berbohong, korup, dan sering menganiaya. Bahkan dapat tega membunuh sesamanya. Dalam beberapa kasus, manusia juga sering disebut sebaga komunal yang menjadi puncak predator terhadap alam dan habitat lain yang ada di dalamnya.

Sang Khalik yang Maha Besar, Maha Perkasa, dan Pemilik Kekuasaan Tak Terbatas. Secara struktural dan kultural telah membangun konstruksi nilai-nilai yang menjadi batas-batas pertarungan antara aqidah dan syahwat hewani yang meliputi eksistensi manusia. Allah begitu luas pengetahuan, kasih sayang, dan pengampunannya serta seadil-adilnya menilai kehidupan manusia di muka bumi. Tak sedikitpun yang tersembunyi di hadapanNya, bagi siapa yang sesat dan berbuat dzolim. Begitupun setiap yang menyebarkan kebaikan dan rasa syukur atas nikmat Allah.

Ritual pengorbanan dan keikhlasan serta rasa syukur sebagai bentuk ketaatan Nabi Ibrahim kepada Tuhannya dengan menyembelih putranya Nabi Ibrahim, yang kemudian diganti dengan hewan ternak. Merupakan sebuah peristiwa monumental sekaligus tonggak sejarah dan cikal bakal kesolehan sosial peradaban manusia. Sebagaimana termaktub dalam Perintah Shalat dan Berkurban dalam QS. Al-Kautsar Ayat 2, Sejarah dan Teladan Nabi (Ibrahim AS) dalam QS. Ash-Shaffat Ayat: 102-103, Syariat dan Hikmah Hewan Kurban dalam Al-Hajj Ayat 34 dan 37.

Berita Bekasi Lainnya  Hibah 100 Juta per RW: Antara Harapan Baru dan Tantangan Transparansi

Ada ibadah vertikal (hablum minallah) sebagai bentuk penyerahan diri manusia dari Nabi Ibrahim atas kekuasaan dan otoritas Allah dalam bingkai pengorbanan dan keikhlasan. Ada juga ibadah horisontal berupa solideritas sosial (hablum minannas) yang mewujud rasa peduli dan berbagi pada sesama. Sungguh Islam menjadi agama yang hak yang menyempurnakan perhelatan kehidupan dunia yang begitu sempurna meliputi struktur sosial kemanusiaan dan keimanan pada agama tauhid.

Ada juga yang menarik dan bisa saja menjadi ‘stretching point’ dari risalah teladan pengorbanan Nabi Ibrahim yang historis, filosofis, dan teologis, yakni tentang penghambaan sejati penuh totalitas Nabi Ibrahim yang mutlak pada Sang Pencipta Penghidupan dan Kehidupan. Ini menjadi linear dengan perintah Allah seperti tersurat pada,

QS. Al-Hajj Ayat 47

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوَٰى مِنْكُمْۗ
“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.”

Sinyalemen Al Quran sebagaimana diperintahkan Allah, sejatinya juga memberi isyarat agar ibadah manusia itu tidak sekadar melaksanakan syariat, lebih dari itu harus bisa memaknai, menyentuh, dan memanifestasikan makna tarekat, hakikat dan marifat yang tersembunyi. Momentum dalam Idul Adha tak terbatas ibadah ritual semata, lebih dari itu harusnya bisa menjadi gerakan sosial. Gerak pembebasan rakyat dan umat dari belenggu jahiliyah.

Apa yang menjadi pesan inti dari peristiwa yang menjadi tuntunan religi, acapkali kehilangan esensi dan substansinya. Penyembelihan hewan kurban terbatas hanya pada pembagian daging hewan pada masyarakat yang tak beruntung secara ekonomi dan dianggap kemurangan. Ada pesan sosial di dalamnya, tapi lebih dari itu menuntut komitmen dan konsistensi akidah yang kuat dalam mengabdi dan penyerahan diri pada Allah semata.

Berita Bekasi Lainnya  PT Sinergi Patriot, BUMD atau "Panti Asuhan Politik"?

Resonansi nilai-nilai pengorbanan Nabi Ibrahim kerap terabaikan umat Islam dalam ibadah spiritual dan ritual. Kesadaran transendental yang sarat altruisne dari Nabi Ibrahim sebagai wujud ketaatan paripurna hambanya terhadap Tuhannya, terasa gagal menjadi sistem sosial berkeadaban dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Juga dalam setiap pikiran, ucapan, dan tindakan keagamaan, oleh umat Islam sekalipun.

Perilaku manusia di dunia pada umumnya dan umat Islam khususnya sering tercerabut dari prinsip-prinsip kemanusiaan dan ke-Tuhanan. Iklim global yang menampilkan panggung sekulerisasi dan liberalisasi semakin menyuburkan konspirasi Islamophobia. Umat Islam sendiri cenderung rapuh tanpa ukhuwah dan persatuan muslim dunia, larut dalam budaya kapitalisme yang membentuk manusia menjadi budak materi. Semua menghamba pada uang. Menjadikan keuangan yang berkuasa.

Lebih miris lagi, sesama muslim terus dirasuki sifat iri, dengki, dan hasad. Kecintaan pada dunia yang membuat mental takut mati, takut kehilangan harta benda dan jabatan. Terlalu mencintai dunia. Membuat sebagian besar umat Islam termarjinalkan dan kehilangan Al Quran sebagai pedoman hidup.

Di Indonesia sendiri, ibadah idul Adha bisa dibilang telah lama kehilangan makna dan urgensinya. Sepanjang tahun beribadah haji dan melakukan penyembelihan hewan kurban. Namun seiring itu kerap gagal mewujudkan kesadaran tindakan pengorbanan, keihklasan, dan ketakwaan sebagaimana perintah Tuhan. Sebagian besar umat Islam masih berkubang dalam kebencian dan permusuhan. Pertikaian dan konflik rentan terjadi antar sesama dan pemeluk agama lainnya.

Korupsi, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan dan jabatan serta tindakan kekerasan dan pembunuhan telah menjadi permisif dan seperti menjadi keharusan untuk memenuhi ambisi dan syahwat kekuasaan. Umat Islam cenderung sering terjebak pada simbolisme beragama tapi tak bertuhan.

Berita Bekasi Lainnya  Satu Tahun Tri–Harris: Ujian Kepemimpinan Kota Bekasi Sesungguhnya

Terasa begitu menyakitkan, tatkala menyadari sesama umat Islam mulai kehilangan rasa peduli, simpati dan empati. Tak ada lagi persaudaraan muslim yang bisa menjaga dan melindungi umat dari kebodohan, kemiskinan, dan dari penyakit serta kejahatan kemanusiaan, termasuk genosida skala lokal dan internasional. Umat Islam tercerai-berai, mudah difitnah, diintimidasi dan diteror. Terancam pemurthadan dan menjadi orang-orang yang tergolong kafir, musyrik, dan fasik meski masih memeluk Islam

Loyalitas dan militansi kepada Tuhan sering kalah dan tergusur oleh kesenangan dan kemewahan hidup yang menggiurkan. Takut padakekuasaan selain Allah. Pemerintah bagai kumpulan para durjana, Ulama tak lagi berdakwah (mengajak umat pada kebaikan) dan bersifat tabligh (menyeru perintah Tuhan). Sementara rumat terus melenceng dari akidahnya.

Pada akhirnya sulit membantah, seiring penyembelihan hewan kurban terus berlangsung. Sifat-sifat hewani yang penuh mudharat pada manusia terus terpelihara dan tumbuh berkembang membentuk mental dan karakter yang ganas. Alih-alih dengan semangat menginsyafi semangat idul kurban. Umat Islam bukan bukan malah bertambah dan menguatkan keimanannya dengan pengorbanan, keikhlasan, rasa syukur, dan ketakwaannya pada pada Allah. Sepertinya, banyak kalangan muslim yang justru gagal membunuh Kebinatangan manusia.

Bekasi Kota Patriot.
10 Dzulhijjah 1447 H/27 Mei 2026.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya

Penulis: Yusuf Blegur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *