Opini  

Menagih “Ruang Bernapas” di Kota Industri: Mengapa Transformasi Taman Sehati Cikarang Sangat Berarti?

Bekasi - Potret Taman Sehati yang ada di Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi. Foto: Elisa Putri Br Sitorus
Potret Taman Sehati yang ada di Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi. Foto: Elisa Putri Br Sitorus

Bekasi – Di tengah deru mesin pabrik, kepulan asap industri, dan hilir-mudik kendaraan logistik yang tak pernah tidur, Kabupaten Bekasi khususnya kawasan Cikarang selama ini diidentikkan sebagai jantung manufaktur nasional. Cikarang tumbuh begitu masif secara ekonomi. Gedung-gedung pabrik berdiri gagah, sentra bisnis menjamur, dan mal-mal megah berdiri mengapit jalan protokol. Namun, dibalik laju modernisasi tersebut, ada satu hal mendasar yang kerap terabaikan: ketersediaan ruang publik terpadu yang gratis, inklusif, dan humanis bagi warganya.

Langkah Pemerintah Kabupaten Bekasi dalam menata dan mentransformasikan kawasan Taman Sehati di Cikarang Timur (depan Stadion Wibawa Mukti) menjadi pusat rekreasi, kuliner, dan kumpul warga tegap menjawab dahaga sosial tersebut. Penataan kawasan ini bukan sekadar proyek estetika kota semata, melainkan sebuah sinyal penting hadirnya negara dalam menyediakan third place (ruang ketiga) yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat urban pekerja.

Jebakan Mall-Centric dan Dahaga Ruang Ketiga

Secara sosiologis, kehidupan manusia terbagi dalam tiga ruang: first place (rumah), second place (tempat kerja atau sekolah), dan third place (ruang sosial tempat berinteraksi, berolahraga, dan melepaskan penat).

Selama bertahun-tahun, pola pembangunan kota penyangga seperti Bekasi terperangkap dalam jebakan mall-centric. Pusat perbelanjaan modern dijadikan satu-satunya muara tempat warga menghabiskan akhir pekan. Padahal, mal adalah ruang komersial bertarif. Untuk menikmati pendingin udara, bangku yang nyaman, atau sekadar berkumpul, warga dituntut merogoh kocek.

Ketika ruang sosial terpolarisasi oleh daya beli, terjadi kesenjangan akses terhadap rekreasi. Di sinilah urgensi ketersediaan ruang terbuka publik (Open Public Space) yang bebas biaya. Buruh pabrik, pekerja medis, pedagang, hingga keluarga muda berhak atas ruang yang tidak menagih biaya masuk hanya untuk sekadar melepaskan lelah dari tekanan jam kerja yang tinggi.

Taman Sehati: Oase Inklusif dan Penyeimbang Mental Warga

Transformasi Taman Sehati menjadi pusat aktivitas terpadu yang menggabungkan area olahraga, fasilitas anak, ruang hijau, serta sentra UMKM kuliner merupakan langkah penataan yang tepat sasaran.

1. Kesehatan Mental di Kota Berstres Tinggi

Tingkat stres pekerja dan warga di kawasan industri tergolong tinggi akibat jam kerja panjang, polusi, dan kemacetan harian. Adanya ruang terbuka hijau yang tertata rapi memberikan dampak psikologis (restorative effect). Melihat pepohonan, berinteraksi tanpa batas sekat sosial, dan membiarkan anak-anak berlarian gratis adalah obat penawar alami bagi kesehatan mental warga kota.

2. Demokratisasi Ruang Publik

Di Taman Sehati, seorang eksekutif perusahaan dan buruh harian bisa duduk di bangku taman yang sama, menikmati sajian kuliner UMKM lokal yang terjangkau. Inilah fungsi sejati ruang publik: meleburkan sekat kelas sosial dan merawat rasa kebersamaan (sense of community) yang kian mengikis di kawasan perkotaan.

3. Simbiotik Ekonomi Kreatif dan UMKM

Menata ruang publik bukan berarti mengharamkan nilai ekonomi. Pemberdayaan UMKM kuliner dan pedagang lokal yang ditata secara rapi di area Taman Sehati justru menghidupkan rantai ekonomi kerakyatan. Warga mendapat hiburan terjangkau, pedagang kecil memetik rezeki, dan pemerintah daerah mendapatkan potensi pendapatan retribusi yang legal dan transparan.

Pekerjaan Rumah: Konsistensi Pemeliharaan dan Rasa Memiliki

Tentu saja, tepuk tangan untuk revitalisasi ini harus diiringi dengan catatan kritis. Sebagaimana lazimnya pembangunan fasilitas publik di Indonesia, tantangan terberat bukanlah saat meresmikan, melainkan saat merawat.

Pemerintah daerah tidak boleh berhenti pada tahap pembangunan fisik. Konsistensi dalam menjaga kebersihan, ketertiban (agar tidak diokupasi oleh jukir liar atau premanisme), daya dukung pencahayaan malam hari, serta pemeliharaan fasilitas taman harus ditegakkan secara berkelanjutan.

Di sisi lain, masyarakat Bekasi juga dituntut memiliki rasa kepemilikan (sense of belonging). Fasilitas umum yang telah dibangun dengan anggaran daerah adalah milik bersama yang wajib dijaga bukan untuk dirusak, dicoret-coret, atau dikotori sampah sembarangan.

Bekasi tidak boleh hanya dikenal sebagai kawasan pabrik manufaktur dan jajaran mal megah. Langkah menyulap Taman Sehati Cikarang menjadi pusat hiburan dan ruang kumpul warga yang humanis adalah investasi sosial jangka panjang.

Kota yang maju bukan hanya kota yang mampu mencetak angka pertumbuhan ekonomi setinggi langit, melainkan kota yang mampu menyediakan ruang bernapas yang layak, aman, dan memanusiakan setiap warganya tanpa terkecuali. Dan penataan Taman Sehati adalah langkah awal yang patut terus dikawal bersama.

Penulis: Elisa Putri Br Sitorus (Mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya yang menaruh perhatian pada isu lingkungan dan kehidupan masyarakat)

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *