Opini  

Lomba Cerdas Cermat dalam Labirin Kebodohan dan Kemiskinan Struktural

"Point of View" dari fenomena seorang Josepha Alexandra (Ocha) adalah gugatan sunyi dalam keramaian dan keriuhan penyimpangan kekuasaan penyelenggara negara

Bekasi - Ilustrasi lomba cerdas cermat. Foto: Chatgpt for Gobekasi.id.
Ilustrasi lomba cerdas cermat. Foto: Chatgpt for Gobekasi.id.

Bekasi – Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI Tingkat Kalimantan Barat tgl 9 Mei 2026 lalu, masih menyisakan riak-riak laku reaksioner. Tak cukup menjadi kontroversi, ia kemudian berkembang menjadi aneka parodi. Dari yang satir ke sarkasme hingga hujatan dan bahkan kutukan. Sangat menarik, bukan hanya menggelitik pikiran dan menguras energi publik, salah satu instrumen kegiatan pendidikan lembaga tertinggi negara itu diterjang banjir kritikan. Banyak berhamburan ketidakpuasan dan penyesalan.

Bukan pada programnya yang salah. Bukan juga pada teknis penyelenggaraannya yang menyimpang. Terkesan ada peserta yang tidak mendapat keadilan. Terdengar ada juri yang keliru menilai dan MC yang salah berucap. Namun sesungguhnya, secara substansi ini bukan semata persoalan ‘human eror’ atau kekhilafan panitia yang kerap terjadi dalam banyak kegiatan apa pun, baik lokal, nasional dan internasional sekalipun.

Babak final perhelatan lomba cerdas cermat antar SMA di Kalbar yang menjadi program reguler sosialisasi empat pilar kebangsaan oleh MPR itu. Seketika mengentak kesadaran publik. Terpicu oleh sesuatu yang tidak ideal dalam pelaksanaannya. Tak jauh berbeda dengan penyelenggaraan banyak program atau kegiatan negara lainnya yang niat, tujuan dan praktiknya ibarat jauh api dari panggang.

Berita Bekasi Lainnya  Kilas Balik Sejarah Terciptanya Uang Kertas

Rakyat seperti berulang tergerus luka sanubarinya ketika merenung pada negara yang gagal mewujudkan adil makmur dalam memaknai kemerdekaan. Begitu berlimpah fenomena program pemerintah yang sangat baik dan mulia dalam landasan idiil namun miris dan memprihatinkan dalam tatanan operasional.
Masalah KKN, HAM, hukum dan demokratisasi serta konstitusi yang begitu karut-marut dalam tafsir dan kebijakan aparatur pemerintahan, yang sarat distortif, manipulatif, dan distortif. Kejahatan menjadi keseharian dan serba permisif justru dilakukan oleh aparat keamanan dan banyak pemangku kepentingan publik. “State Organized Crime” seperti telah menyelimuti NKRI, mewujud rezim yang penuh rekayasa dan kedzoliman namun berlagak seolah-olah nasionalis dan patriotik bak pahlawan kesiangan, kemalaman dan ketiduran.

Masalah prinsipiil terjadi dalam lomba cerdas cermat empat pilar tersebut. Sejatinya juga terjadi dengan program efisiensi anggaran negara yang dijalankan dengan pemborosan dan gaya hidup mewah para pejabat termasuk presiden yang gemar kegiatan luar negeri berbiaya mahal penuh pesta-pora ulang tahun, dengan alasan kunjungan resmi antar negara. Begitu pun juga dengan yang aktual, berupa program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program strategis namun tanpa efisiensi dan efektivitas menghambur-hamburkan uang di tengah krisis ekonomi. Masih banyak lagi program yang identik dengan ‘abuse of power’ yang dibumbui fakta, lain dimulut lain di hati dan apalagi dalam tindakan.

Berita Bekasi Lainnya  Efek Syaikhu dan Anies Tak Buahkan Kemenangan Heri-Sholihin di Pilkada Kota Bekasi

Negara melalui pemerintah tak terbantahkan seperti sedang membangun sekaligus memelihara kemiskinan dan kebodohan struktural. Rezim telah membangun benteng kokoh kekuasaan yang angkuh, arogan, dan represif. Menjauhkan rakyat dari akses kedaulatan, kemandirian, dan kesejahteraan. Menyingkirkan rakyat dari eksistensi kecerdasan sebagai out came pendidikan dan kesadaran esensial sebagai warga negara.

Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar khususnya dalam babak final di Kalbar yang menghebohkan itu. Pada dasarnya telah menjadi miniatur dari negara yang jauh dari ideal secara keseluruhan. Tentang kekuasaan yang absolut, konspiratif dan manipulatif. Tentang kebanyakan orang memilih bermain aman (safety player) dan dalam wilayah nyaman (comport zone). Juga yang paling terpenting masih ada yang berani bersikap tegas menjunjung kebenaran, kejujuran, dan keadilan meskipun berisiko tinggi, menjadi marginal, tak berdaya dan terisolasi dari arus besar penyimpangan.

Semangat berjuang semangat sukses untuk Josepha Alexandra (Ocha) yang telah menjadi sedikit siswa dan kelangkaan warga negara yang berani bersuara menuntut hak kelayakan dan kesetaraan sebagai peserta. Di tengah keluhan orang kecil yang tak didengar dan ketika suara kalangan pinggiran tak digubris. Keberanian Ocha bukan sekadar menghadapi ‘misleading’ kepanitiaan penyelenggaraan lomba cerdas cermat empat pilar kebangsaan MPR RI. Namun Ocha juga telah linear menggugat distorsi aparatur pemerintah penyelenggara negara secara umum. Membongkar pelan namun pasti labirin pembodohan sistemik dalam arena pendidikan nasional. Ocha menjadi fenomena perlawanan seorang warga negara pada kebodohan dan kemiskinan struktural.

Berita Bekasi Lainnya  Duka Cita atas Nasib Relawan Tri Adhianto

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Penulis: Yusuf Blegur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *