Bekasi  

Enam Titik Tanggul Sungai Citarum Rusak di Muaragembong, Warga Hadapi Ancaman Jebol Berulang

Kabupaten Bekasi - Tanggul jebol di SUngai CItarum membuat warga sekitar Muaragembong kebanjiran yan beralngusung nyaris satu bulan. Foto: Ist/Gobekasi.id.
Tanggul jebol di SUngai CItarum membuat warga sekitar Muaragembong kebanjiran yan beralngusung nyaris satu bulan. Foto: Ist/Gobekasi.id.

Kabupaten Bekasi — Sedikitnya enam titik tanggul Sungai Citarum di wilayah Muaragembong, Kabupaten Bekasi, mengalami kerusakan. Dalam sebulan terakhir, tiga titik di antaranya telah jebol, sementara tiga titik lain masih dalam pemantauan ketat warga karena kondisinya dinilai rawan ambles.

Kerusakan tanggul terjadi di tengah fluktuasi debit air Sungai Citarum yang kerap naik secara tiba-tiba. Warga bersama aparatur desa terpaksa melakukan perbaikan darurat meski kondisi air belum sepenuhnya surut.

Kepala Urusan Desa Pantai Bakti, Rimin Bahtiar, mengatakan proses penanganan terus berjalan dengan melibatkan gotong royong masyarakat serta dukungan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum.

“Memang belum semuanya bisa ditangani karena air masih tinggi, tetapi perbaikan terus berjalan,” kata Rimin, Senin, 2 Februari 2026.

Menurut Rimin, jebolnya tanggul terjadi berulang kali dalam sepekan terakhir akibat naik-turunnya debit air Sungai Citarum. Setelah sempat surut selama beberapa hari, air kembali naik dan memicu jebol susulan di sejumlah titik.

“Air sempat surut beberapa hari, lalu naik lagi dan menyebabkan jebol susulan. Sekarang genangan sudah mulai berkurang di beberapa titik,” ujarnya.

Adapun tanggul yang jebol berada di Kampung Bendungan RT 03 RW 01, Kampung Kedung Bokor RT 03 RW 03, serta Kampung Biyombong RT 03 RW 06, seluruhnya di Desa Pantai Bakti. Tanggul-tanggul tersebut sebelumnya dibangun secara darurat oleh warga bersama aparatur desa untuk menahan luapan Sungai Citarum.

Selain warga dan BBWS Citarum, sejumlah pejabat pemerintah turut meninjau lokasi, di antaranya BPBD Kabupaten Bekasi, Bupati Bekasi, serta anggota DPR dan DPRD. Bantuan darurat juga telah disalurkan kepada warga terdampak.

Rimin berharap perbaikan ke depan dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan agar tanggul tidak kembali jebol saat debit air meningkat.

“Kami berharap instansi terkait benar-benar mendorong perbaikan ini supaya tanggul lebih kuat dan kejadian seperti ini tidak terulang,” tegasnya.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bekasi memastikan akan memperbaiki rumah warga yang rusak parah akibat jebolnya tanggul. Janji tersebut disampaikan langsung Pelaksana Tugas Bupati Bekasi, dr. Asep Surya Atmaja, usai meninjau lokasi kerusakan di Kampung Bendungan, Sabtu, 24 Januari 2026.

Asep mengatakan rumah milik Sarmina (70), yang berada tepat di titik jebolnya tanggul, telah didata dan menjadi prioritas perbaikan.

“Iya, kita akan perbaiki. Sudah didata oleh tim kami,” kata Asep.

Menurut dia, perbaikan akan dilakukan sesegera mungkin setelah kondisi pascabanjir memungkinkan. Soal anggaran, pemerintah daerah membuka berbagai opsi pendanaan agar proses tidak tertunda.

“Nanti kita lihat bersama Dinas Perkimtan. Kalau APBD tidak mencukupi, bisa melalui Baznas, dan kalau masih kurang, CSR perusahaan juga siap dilibatkan. Yang jelas, rumah itu pasti kita perbaiki,” ujarnya.

Asep juga memastikan seluruh rumah warga yang rusak akibat banjir di berbagai wilayah Kabupaten Bekasi akan menjadi perhatian pemerintah. Saat ini, pendataan masih dilakukan oleh pihak desa dan kecamatan.

“Semua dampak banjir ini menjadi perhatian kami. Data masih terus kami kumpulkan,” katanya.

Sebelumnya, tanggul Sungai Citarum jebol pada Rabu, 21 Januari 2026, dan menyebabkan satu rumah rusak berat. Dari pantauan di lokasi, bagian belakang rumah ambruk diterjang arus deras. Sejumlah tiang bangunan tampak retak dan nyaris roboh. Perabot rumah tangga, seperti lemari, pakaian, hingga televisi, hanyut terbawa air.

Sarmina mengingat detik-detik mencekam saat tanggul jebol. Saat itu ia baru selesai salat Isya dan bersiap beristirahat ketika suara dentuman keras terdengar dari luar rumah.

“Bunyinya keras seperti petir. Suami langsung keluar, ternyata air sungai sudah meluap. Saya langsung dibangunin dan disuruh keluar,” tuturnya.

Ia tak sempat menyelamatkan barang-barang berharga. Bersama suami dan anak-anak, Sarmina hanya fokus menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman.

“Semua barang habis. TV hanyut, baju-baju juga habis,” ucapnya lirih.

Kini, rumah tersebut tak lagi layak huni. Sarmina dan suaminya terpaksa mengungsi ke rumah anaknya. Ia berharap janji pemerintah segera direalisasikan agar bisa kembali memiliki tempat tinggal yang aman.

“Mudah-mudahan ada bantuan. Rumah sudah hancur semua,” katanya.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

(Syafira Y.M)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *