Bekasi  

Imbas Konflik Global, Harga Kedelai Impor Meroket Paksa Perajin Tempe di Bekasi Putar Otak

Salah satu perajin tempe di Kecamatan Serang Baru, Sukhep, mengungkapkan bahwa kenaikan harga kedelai terjadi secara signifikan dan terus berfluktuasi dalam waktu singkat.

Kabupaten Bekasi - Harga kedelai impor naik perajin tempe Bekasi perkecil ukuran
Harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama pembuatan tempe terus merangkak naik. Kondisi ini memaksa para perajin tempe di Kabupaten Bekasi menyiasati situasi dengan memperkecil ukuran produk mereka. Foto: Ist/Gobekasi.id.

Kota Bekasi – Melambungnya harga kedelai impor sebagai bahan baku utama pembuatan tempe mulai mencekik para pelaku usaha kecil di Kabupaten Bekasi. Kondisi ini memaksa para perajin tempe untuk menyiasati situasi dengan memperkecil ukuran produk mereka agar tidak gulung tikar.

Salah satu perajin tempe di Kecamatan Serang Baru, Sukhep, mengungkapkan bahwa kenaikan harga kedelai terjadi secara signifikan dan terus berfluktuasi dalam waktu singkat.

“Kalau biasanya 1 kuintal kedelai harganya Rp1 juta, sekarang sudah tembus Rp1 juta 90 ribu,” ujar Sukhep saat ditemui di rumah produksinya, Rabu (1/4/2026).

Harga Kedelai Terus Berfluktuasi Setiap Hari

Menurut Sukhep, lonjakan harga kedelai ini sebenarnya sudah mulai terasa sejak sebelum Idulfitri 1447 Hijriah lalu. Namun, tren kenaikan justru semakin tidak terkendali setiap kali pasokan baru tiba dari distributor.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Industri Bekasi, Apindo Siapkan Langkah Antisipasi

Saat ini, harga kedelai eceran telah mencapai Rp10.900 per kilogram, naik dari harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp10.000 per kilogram.

“Pokoknya setiap kali turun dari truk, harga naik Rp10 ribu per kuintal. Besok juga bisa saja naik lagi Rp10 ribu,” tambahnya dengan nada khawatir.

Bahan Pendukung Seperti Plastik Ikut Melambung

Penderitaan para perajin tempe tidak berhenti di kedelai saja. Bahan pendukung produksi seperti plastik pembungkus juga mengalami kenaikan harga yang drastis. Plastik yang biasanya dibeli seharga Rp270 ribu per rol, kini melonjak hingga Rp380 ribu.

Kenaikan harga plastik ini diduga kuat akibat ketergantungan industri dalam negeri pada bahan baku biji plastik impor yang harganya terkerek naik di pasar global.

Baca Juga:Konflik Timur Tengah Ganggu Perjalanan Umrah, Jemaah Bekasi Diimbau Tunda Keberangkatan

Sukhep menduga situasi geopolitik internasional, termasuk konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran di Timur Tengah, menjadi pemicu utama kenaikan harga bahan baku ini. “Infonya sih efek dari konflik di Timur Tengah,” tuturnya.

Strategi Bertahan: Ukuran Tempe Terpaksa Menyusut

Menyikapi ongkos produksi yang kian membengkak, Sukhep memilih langkah dilematis. Ia memutuskan untuk tidak menaikkan harga jual tempe di pasar agar pelanggan tidak kabur. Sebagai gantinya, ia terpaksa memangkas dimensi atau ukuran tempe produksinya.

“Mungkin ukuran tempe diperkecil. Tetapi kalau yang lain pada naik, bisa juga harga naik Pak. Yang jelas kalau keadaan kayak gini produksi juga bisa turun karena ukuran tempe nyusut,” jelas Sukhep.

Kini, para perajin tempe di Bekasi hanya bisa berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga kedelai impor. Jika kondisi ini terus berlanjut, mereka khawatir daya beli masyarakat akan semakin menurun dan mengancam keberlangsungan usaha mikro di daerah.

Ikuti Kami di GOOGLE NEWS

Simak berita seputar Bekasi di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Gobekasi.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VarakafA2pLDBBYbP32t. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *